Dongko, sebuah daerah di Kabupaten Trenggalek, kaya akan budaya yang dipengaruhi oleh letak geografis, sejarah, dan ritus lokal. Salah satu mahakarya dari Dongko adalah kesenian Turonggo Yakso, yang menjadikan daerah ini sering disebut sebagai Ubud versi Jawa. Meskipun memiliki pertanian terasering, cuaca dingin, dan pemandangan pedesaan yang indah, Dongko tampak tidak ideal untuk perkembangan seni. Namun, Turonggo Yakso tetap dipentaskan dengan perlengkapan sederhana.
Selain Jaranan Turonggo Yakso, tradisi di Dongko lainnya adalah Ngitung Batih, yang berfokus pada menghitung anggota keluarga. Tradisi ini, lahir dari interaksi masyarakat agraris, merepresentasikan kepedulian dan doa untuk keselamatan keluarga. Upacara Ngitung Batih rutin digelar setiap awal bulan Sura dalam penanggalan Jawa atau Muharram dalam penanggalan Hijriah. Diawali dengan kirab dayang-dayang yang membawa takir plontang dan tumpeng dari jalan raya Dongko ke pendapa kecamatan. Tradisi ini berasal dari era kerajaan, di mana dilakukan penghitungan anggota keluarga yang masih hidup pasca peperangan.
Untuk melestarikan dan mengembangkan wisata, Kecamatan Dongko perlu ditetapkan sebagai Culture Heritage City. Konsep ini fokus pada objek sejarah, seni, ilmu pengetahuan, dan gaya hidup lokal, serta memperhatikan adat istiadat, tradisi keagamaan, dan warisan budaya. Dengan potensi budayanya, Dongko memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai kota warisan budaya, yang akan meningkatkan sektor wisata. Ini juga akan menjadikan Dongko sebagai pusat kebudayaan, mendukung pertumbuhan ekonomi selain Trenggalek, Watulimo, dan Panggul. Rencana mendirikan sekolah budaya di Dongko bertujuan menjaga kelestarian budaya dan menyeimbangkan perkembangan ekonomi di kecamatan lainnya. Program pembangunan untuk Dongko Culture Heritage City dapat dilihat pada tabel berikut.

Sumber : RPJMD Kab Trenggalek 2021-2026 (halaman VI-53 dan VI-54)